"Loading..."

2011, Target Tanam Pohon 1,5 Miliar

Gerakan menanam satu miliar pohon di seluruh Indonesia tetap bergulir. Kali ini, pemerintah menargetkan menanam 1,5 miliar pohon di seluruh Indonesia hingga akhir tahun 2011.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan, penanaman pohon harus terus-menerus dilakukan setiap tahun. Ini bertujuan memulihkan kawasan hutan yang telah rusak. “Selama 40 tahun menebang terus hingga 4 juta hektare hutan rusak setiap tahun. Sehingga, proses pemulihan hutan bisa sampai 30 tahun,” ujar Zulkifli, akhir pekan lalu.
Kegiatan menanam pohon ini tidak hanya melibatkan jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, melainkan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga masyarakat di sekitar kawasan hutan. Salah satu contoh program yang melibatkan masyarakat adalah dengan membangun kebun bibit rakyat.
Rencananya, tahun ini, akan berdiri 10.000 unit kebun bibit rakyat di 424 kabupaten/kota. Melalui upaya ini, pemerintah berharap bisa menanam sekitar 500 juta batang pohon.
Tahun lalu, pemerintah mendirikan 8.000 unit kebun bibit rakyat. Kebijakan ini merupakan salah satu upaya melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan agar mendukung program menanam satu miliar pohon tahun zoto lalu. Lokasinya berada di 422 kabupaten/kota, Hasilnya, kebun bibit ini menyumbang 400 juta pohon.
Ketua Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Zulfahmi menghargai upaya pemerintah menggelar gerakan menanam pohon. Tapi, upaya ini harus disertai dengan pelarangan penebangan pohon di kawasan hutan “Sekedar menanam tidak sulit, apalagi kalau orientasinya proyek,” ujarnya, Minggu (3/4).
Zulfahmi menilai, pemerintah seperti bermuka dua. Di satu sisi, mereka bersemangat namun sisi lain masih saja mengeluarkan izin untuk penebangan hutan.
“Coba saja cek, pada tahun 2010 lalu, di Riau saja, pemerintah daerahnya masih memberikan izin menebang 11 juta meter kubik kayu alamo Artinya ada jutaan pohon ditebang. Ini bertolak belakang dengan semangat menanam,” kata Zulfahmi.
Nama Media : KONTAN
Tanggal : Senin, 4 April 2011 hal. 20

Share: