SOLOPOS.COM, BOYOLALI (21/7/2016) | Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Telawa, Jateng, mengembangkan pohon kayu putih di kawasan Boyolali utara. Tak kurang lahan seluas 1.300 hektare di wilayah Boyolali utara kini telah disiapkan untuk proyek besar penyediaan bahan baku pembuatan minyak kayu putih tersebut.
Kepala KPH Telawa, Denny Raffiddin, mengatakan program penanaman pohon kayu putih akan melibatkan warga setempat di kawasan hutan Boyolali utara. Mereka bertugas mengolah atau menyuling daun-daun pohon kayu putih yang telah dipanen. Selanjutnya, hasil sulingan siap pakai akan langsung dibeli oleh Perhutani dengan harga yang telah disepakati.
“Kami beli minyak yang sudah jadi seharga Rp35.000/kg. Ada dua LMDH [Lembaga Masyarakat Desa Hutan] yang sudah siap mengolah hasil panen daun kayu putih. Dua LMDH ini dikelola oleh masyarakat setempat,” ujar Denny saat berbincang dengan Solopos.com di ruang kerjanya, Kamis (21/7/2016).
Denny mengatakan, selama ini minyak kayu putih masih kekurangan bahan bakunya. Ia lantas berpikir bagaimana perhutani mengambil peluang itu sebagai usaha penopang perhutani. “Minyak kayu putih ini sangat besar peluang pasarnya. Insya Allah, penanaman kayu putih ini sangat prospektif,” ujarnya.
Saat ini, luas lahan yang telah disiapkan untuk program penanaman pohon kayu putih ialah 1.300 hektare. Luas lahan itu masih bisa dikembangkan hingga 1.500 hektare jika program dianggap cukup menjanjikan. “Lahan seluas itu ada di wilayah Boyolali utara yang paling banyak. Sisanya di Grobogan dan Sragen,” terangnya.
Masa panen raya diperkirakan terjadi pada 2019 sejak dimulainya penanaman pohon kayu tahun ini. Dengan luas lahan 1.300 hektare, hasil panen diperkirakan bisa menghasilkan pendapatan senilai Rp15 miliar-Rp20 miliar. “Perhitungannya ialah setiap pohon ditaksir bisa menghasilkan daun kayu putih seberat 3 kg,” ujarnya.
Pejabat Humas KPH Telawa Jateng, Sulastri, mengatakan program penanaman pohon kayu putih tersebut sebagai salah satu langkah inovasi KPH Telawa dalam menambah pendapatan. Di sisi lain, program tersebut juga untuk menciptakan peluang kerja baru bagi warga di kawasan hutan sebagai mitra.
Ditanya alasannya memilih tanaman kayu putih, menurut Sulastri karena tanaman tersebut paling cepat masa panennya. Kalau tanaman jati, jelasnya, masa panennya lama sekali, yakni antara 20-50 tahun. “Kalau pohon kayu putih, satu tahun saja sudah bisa panen,” terangnya.
Tanggal : 21 Juli 2016
Sumber : solopos.com