"Loading..."

Cerita Kopi Rakyat dari Republik Kopi

METROTVNEWS.COM, BONDOWOSO (27/5/2016) | Petani perkebunan kopi rakyat di lereng Gunung Ijen memperlakukan kopi ala kadarnya. Contohnya, mereka biasa menjemur kopi di pinggir jalan. Dengan terkena polusi kendaraan yang lewat, kopi yang diemper-emper begitu bisa terpapar bau bahan bakar. Siapa yang mau minum kopi rasa begitu. Sedap pun tidak, apalagi istimewa.  
Tetapi itu dulu.  Sekarang petani di sana sudah paham bagaimana cara memperlakukan biji-biji kopi, dari mulai memetik sampai mengemas sehingga aroma kopinya bisa menembus pasar Eropa terutama Swiss.
Beberapa tahun lalu, ceritanya jauh dari sukses itu. Mulanya, kopi Bondowoso yang bisa menyeberang ke luar negeri itu hanya berasal dari perkebunan milik PTPN XII. Perkebunan negara ini memang sudah bisa menghasilkan kopi dengan standar dunia.  Sedangkan, perkebunan milik rakyat  hasil panennya hanya berakhir dalam kemasan ketengan yang dijual di warung-warung desa.
Rakyat mengelola kebun mereka sekadarnya. Menjemur kopi di pinggir jalan. Hancur memang tidak, tetapi aroma kopi jadi kurang mantap. Anda tentu tahu maksudnya. Sehari-hari masyarakat biasa menggunakan kopi untuk menghilangkan bau bukan? Kopi memang bisa menyerap udara di sekelilingnya sehingga cara menjemur kopi pun bisa mengubah aroma kopi yang sebenarnya punya keunggulan rasa.
Masalah lainnya, petani sering mendapatkan modal dari pengijon sehingga harga kopi rendah.  Dengan situasi seperti itu, kopi tidak bisa memakmurkan hidup petani.
“Kopi-kopi terbaik dihasilkan PTPN. Adapun kebun kopi yang dikelola rakyat itu kopi yang dijual ketengan, hasilnya hanya untuk memenuhi kebutuhan subsistence para petani,” cerita Bupati Bondowoso Amin Said Husni, di Pendopo Bondowoso akhir pekan lalu.
Kata Bupati Amin, perkebunan kopi di Bondowoso sebenarnya termasuk tertua di Indonesia. Wilayah Besuki Raya yang meliputi Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso itu merupakan produsen utama kopi yang dikembangkan oleh Belanda. Perkebunan ini kemudian diteruskan pengelolaanya oleh perusahaan negara, PTPN XII.
Beberapa tahun lalu, hanya kopi dari perkebunan perusahaan negara yang bisa mencapai harga Rp40 ribu, sementara kopi dari perkebunan rakyat  cuma berharga sekitar Rp17 ribu perkilo. Tanaman jenisnya sama, dari tanah yang sama, tetapi mengapa harganya bisa jomplang? Ini yang mengganggu benak Amin.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso dengan bantuan Bank Jatim, Bank Indonesia dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Indonesia di Jember mendampingi petani meningkatkan kualitas kopi mereka.
“Para petani kopi di kawasan ini dibina oleh Pemkab,  Puslit Kopi dan Kakao, dan perbankan. Munculah kita sebut klaster kopi. Klaster kopi ini adalah kawasan perkebunan kopi milik rakyat yang kita bina dan memproduksi kopi specialty berkelas dunia,” papar Amin bangga.
Perkebunan rakyat yang tersebar di  Kecamatan Sumber Wringin, Sempol, Botolinggo, Cermee, Maesan semakin berkembang. Menurut Bupati, dari 3 ribu hektare, perkebunan klaster perkebunan kopi di Bondowoso mencakup sekitar 13 ribu hektare.
Permintaan untuk membentuk klaster baru pun mulai bermunculan, seperti di kawasan Hyang Argopuro. “Para petani punya harapan baru,” ujar Amin.
Berdasarkan catatan, JPIP, pada 2011, ekspor perdana kopi dari perkebunan rakyat di Bondowoso mendaratkan satu kontainer atau 17.687 kg kopi ke  Swiss dengan nilai Rp672 juta. Kini ekspornya sudah mencapai seratusan ton per tahun. Negara yang dituju meluas ke Eropa seperti Belanda dan Amerika.
Pemkab Bondowoso menganggap kopi dari Bondowoso selayaknya menyandang nama besar, bahkan di dunia internasional. Kopi asal Bondowoso diklaim punya keunikan. Salah satu alasannya adalah tidak banyak tempat di Jawa Timur bahkan di Indonesia yang punya perkebunan di atas ketinggian 1000 mdpl. Padahal itu syaratnya untuk bisa tumbuhnya jenis kopi arabika. Kalau  robusta, masih bisa tumbuh 700 mdpl ke bawah.
“Arabika hanya tumbuh dengan ketinggian di atas 900-an meter. Jember tidak punya, Banyuwangi tidak punya,” Amin membandingkan.
Uniknya lagi kekhasan jenis Arabika dari Bondowoso ada karena perkebunan Arabika di Bondowoso itu tumbuh di kawasan Ijen.  Dari segi ketinggian, klimatologi, kontur tanah, keasaman, belerang  dan lain-lain ternyata berpengaruh pada cita rasa kopi Arabika Bondowoso.
“Oleh karena itu kopi Arabika Bondowoso ini termasuk kopi specialty, dalam istilah pencinta kopi. Mereka yang tahu kopi pasti bisa membedakan,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Bondowoso Yusriadi menyebut setiap wilayah perkebunan kopi seperti, Gayo, Sumatera, Bali, Toraja memiliki karakter rasa yang berbeda-beda.  tergantung karakter tanah. Begitupun kopi Bondowoso.
“Kalau bicara keunggulan atau perbedaan karakter rasa misalnya kopi Bali dominan buah, ada aroma jeruk.  Karakter java arabika Bondowoso punya karakter cita rasa kacang-kacangan, coklat dan sedikit herbal, “ kata Yus. “Ada sensasi asamnya, memberikan warna yang beda,” imbuhnya.
“Saya sebenarnya sama kopi sudah enggak terlalu kuat. Tetapi, saya minum beberapa cangkir perut saya tidak apa-apa. Emang enak mas,” kata MrD, seniman dan pengusaha gitar merek Rick Hanes, yang sempat  berkeliling melihat pengolahan kopi di lereng Ijen akhir pekan lalu.
Pemkab bersama Puslit Koka mulai mendampingi perkebunan kopi rakyat,  dan pada 2011 hasilnya mulai terlihat. Menurut Yus, semenjak perkebunan kopi rakyat diperhatikan pemerintah, bukan hanya cara mengolah kopi yang berbeda, pola pikir petani pun berubah.
“Kalau sebelum terbentuk kelompok, petani masih masing-masing. Belum paham arabika itu mau diapakan. Kenapa PTPN bisa jual harga bagus sedangkan rakyat susah jualnya, dan harganya murah? kajian Pemkab dan  pusat penelitian menyimpulkan ada kesalahan di pascapanen. Pengolahan tidak benar. Setelah kami tahu standarnya, ya hasilnya berbeda jauh.  Kalau sebelum 2011 kopi pasar harganya hanya Rp15 ribu per kilo, sejak kluster 2011 bisa diangka Rp44 ribu. Kami jual HS kering (kulit tanduk) harga itu hitungannya Rp44 ribu kalau dikonversi ke kopi pasar (kopi bubuk),” tutur  Yus.
“Pembinaan Ini membawa kesejahteraan ekonomi. Pola pikir petani juga jauh kedepan. Bisa dibilang kami sudah menjadi petani berdasilah, di saku ada pulpen, di leher ada dasi. Pola pikir teman teman berbeda,” candanya.
Target perkebunan kopi rakyat Bondowoso yang saat ini memiliki sekitar 44 kluster, tahun ini menargetkan produksi sekitar 1500 an ton. “Tahun kemarin kalau tidak salah 800 ton. Tahun ini diupayakan 1500 ton kalau bisa lebih. Meski karena faktor erupsi Gunung Raung panen mungkin menurun, tapi kan ada perluasan klaster dan sinergi denan Perhutani cukup bagus,” jelasnya.
Bondowoso memang bukan hanya tentang kawah Ijen, yang memiliki atraksi alam blue fire, yang cuma dua di dunia. Di sana, kopinya juga mulai digadang-gadang sebagai identitas kebanggaan Bondowoso.
Eksploitasi keunikan kopi arabika dari kawasan Ijen-Raung Bondowoso juga mendorong pemerintah setempat untuk mengemas kopi mereka lebih ekslusif. Kawasan Ijen-Raung  (Gunung Ijen – Gunung Raung) didaftarkan ke Kemenkumham untuk mendapat sertifikat Indikasi Geografis. Semacam hak paten produk. Bedanya, yang  dipatenkan adalah kawasannya.
“Karena ini bukan produk tapi kawasan, maka patennya IG (indikasi geografis). Kopi dari kawasan Ijen-Raung ini berhak menggunakan indikasi geografis Ijen-Rawung. Daerah lain tidak boleh mencantumkannya dalam produknya. Tidak boleh pake istilah Ijen-Raung,” papar Amin. Maka tidak heran bila kemasan kopi asal Bondowoso menyematkan tulisan Java arabika Ijen-Raung.
Kemitraan Untuk Kopi Berkelanjutan Indonesia (KKBI) menyebut Indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu.
Melengkapi kampanye itu, Bupati juga mulai mengampanyekan slogan “ayo ngopi di Bondowoso”. Pemkab membuka area-area perkebunan kopi untuk agrowisata. Di sana pelancong  bisa menyaksikan proses pengolahan kopi arabika Bondowoso tentu menyeruputnya sambil menikmati alam kawasan Ijen-Raung yang indah.
Minggu 22 Mei 2016, Bondowoso pun pede memploklamirkan diri sebagai Republik Kopi. Nama ini sebenarnya sudah tercetus dan dipromosikan setahun belakangan oleh Pemkab Bondowoso, selaras dengan geliat dan semangat dunia perkopian di sana.
”Kami ingin mendedikasikan alam Bondowoso ini sebagai produsen kelas dunia, pemasok kopi bermutu internasional dan menjadi kebanggaan Indonesia. Itu yang kami jual sekarang,” imbuh Amin.  Menurutnya, istilah ‘Republik Kopi’ baru satu tahun ini gencar dipromosikan untuk mengiringi semangat dan geliat dunia kopi Bondowoso. Secara resmi, jargon ‘Bondowoso Republik Kopi’ diluncurkan ke publik pada 22 Mei 2016.
Dengan potensi alam yang besar, kopi asal Indonesia sangat layak punya tempat yang tinggi di hati pencinta kopi khususnya di Tanah Air. Kopi-kopi dari Bondowoso, Aceh, Toraja dan Bali dan daerah lain di Indonesia hanya perlu kemasan dan strategi pemasaran yang ciamik agar  derajatnya semakin terangkat dan makin dibangga-banggakan oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Pada tahun 1800-an perkebunan kopi di Jawa yang dikelola Belanda merajai Industri kopi di Amerika dan dunia. Sebagian perkebunan kopi Belanda yang kini dikelola PTPN XII itu berada di pegunungan Ijen.
Saking terkenalnya kopi dari tanah Jawa di masa itu, orang Amerika sampai memunculkan istilah ‘a cup of Java’ yang artinya ‘secangkir kopi’. Java menjadi salah satu pengganti kata ‘kopi’. Istilah lain untuk kopi adalah ‘Joe’. Ada beberapa versi cerita tentang asal usul kata Joe ini. Salah satunya menyebut Joe sebenarnya berasal dari singkatan Jamoke yang merupakan akronim ‘java dan mocha’, dalam perkebangan istilahnya menjadi semakin pendek yaitu ‘Joe’.
Menyebut Bondowoso adalah Republik Kopi, rasanya tidak berlebihan, karena tanah Indonesia sendiri adalah surga kopi yang diakui dunia sejak abad ke-17. Bondowoso pun tahun ini bakal menggelar Ijen Festival Kopi Nusantara 26–27 Juli 2016.  Kopi terbaik dari segala penjuru Indonesia akan ditampilkan dalam festival ini. Well, kenikmatan kopi Indonesia memang pantas dirayakan bukan?!  Mari bersulang.
Tanggal : 27 Mei 2016
Sumber  : Metrotvnews.com