"Loading..."

Kembalikan Fungsi Hutan Lindung, Warga Desa Jambewangi Tanam Pohon Swadaya

TIMESINDONESIA.COM (22/10/2020) | Kesadaran warga tepian hutan Desa Jambewangi patut diacungi jempol. Dalam kurun 16 tahun terakhir, masyarakat yang tinggal di wilayah hutan pangkuan Perhutani KPH Banyuwangi Barat ini, terus menanam pohon secara swadaya untuk mengembalikan fungsi hutan lindung.

Upaya tersebut dilakukan warga sekitar sebagai wujud kesadaran bahwa penting untuk menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia.

Program Rehabilitasi Hutan Lindung pengembalian fungsi hutan ini, dilakukan warga sekitar sejak tahun 2004 silam. Tentunya hal tidak lepas dari pendampingan peranan perhutani. Hingga tahun 2020 ini, dari puluhan hektar lahan yang beralih fungsi, kini sudah 95 persen telah kembali ke fungsi hutan.

“Sudah sejak lama warga disini menanami pohon-pohon ini. Ya ada yang dari perhutani, sebagian juga dari warga sendiri secara swadaya,” kata warga setempat, Nurhamid, Kamis (22/10/2020).

Diceritakan oleh Hamid, sejak beredarnya isu Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) bisa digunakan sebagai tanah partikelir atau eigendom, di tahun 2002 lalu masyarakat sekitar hutan ramai-ramai membuka lahan hutan sebagai lahan persawahan.

Termasuk di area kawasan hutan lindung petak 57, 58, 59 dan beberapa petak hutan lainnya yang masuk kawasan pangkuan dusun Sidomulyo. Kurang lebih ada sekitar 150 hektar lebih lahan yang mulai berubah fungsi pada tahun tersebut.

“Dulu memang sempat terjadi pembukaan hutan yang sangat parah. Saat itu masyarakat saling berebut lahan untuk digunakan pribadi,” katanya.

Bahkan, permasalahan tersebut sempat diseret hingga di ranah DPRD Kabupaten Banyuwangi. Masyarakat menuntut, hutan yang diklaim sebagai lahan eigendom ini bisa di kelola langsung oleh mereka.

“Akhirnya sampai digelar hearing besar-besaran waktu itu. Seingat saya tahun 2003 lah. Waktu era Bupati Samsul Hadi. Dan hasilnya, masyarakat harus mengembalikan fungsi hutan seperti semula. Dengan banyak pertimbangan dampak buruknya terutama,” jelas Hamid.

“Sebab itu, masyarakat tepian hutan sejak peristiwa itu mulai menanami tanaman MPTS. Yaitu dengan pengayaan pohon jenis buah-buahan. Seperti alpukat, durian, jengkol, nangka dan lainnya. Sehingga hutan tetap lestari dan masyarakat masih bisa mengunduh buahnya. Sehingga tidak lagi ada penebangan kayu dan upaya penjarahan lahan hutan lagi,” imbuh Hamid.

Sementara itu, menurut Asper Perhutani kawasan hutan setempat, program rehabilitasi hutan lindung ini pada awalnya sempat terkendala. Hal ini dikarenakan sulitnya menumbuhkan kesadaran di masyarakat. Terjadinya krisis saat itu, membuat masyarakat berlomba-lomba untuk melakukan segala cara agar bertahan hidup.

Dengan metode pendekatan persuasif, lambat-laun warga setempat mulai sadar. Turunnya debit air dan ancaman longsor, membuat warga berinisiatif untuk melakukan penghijauan secara swadaya.

“Program ini terus dilakukan. Sembari perlahan-lahan memberikan sosialisasi kepada warga. Karena mereka sudah puluhan tahun hidup dari hutan, bahkan lebih, jika dihitungsejak dari pendahulunya. Dan alhamdulilah, sudah hampir 100 persen hutan ini kembali sediakala,” kata Asper BKPH Kalisetail, Sunardi kepada TIMES Indonesia.

Menurut Sunardi, dari program Perhutani tersebut, saat ini hanya menyisakan segelintir lahan saja di petak 57 dan 58 yang masih terbuka. Kondisi tanah yang merupakan rawa-rawa, membuat sejumlah pohon yang ditanam kerap kali mati.

Meskipun demikian, namun program rehabilitasi ini terus berlanjut. Bahkan jika tidak terhalang wabah Covid-19 ini, warga tepian hutan setempat ingin mengadakan kegiatan ngalap berkah hutan. Yakni dengan menggelar festival makan buah dari hutan secara gratis bagi seluruh masyarakat Banyuwangi.

“Tinggal di petak 57 itu saja, tanahnya kan rawa. Debit airnya besar, jadi sedikit sulit. Namun sudah ada pohon-pohon MPTS yang ditanami disitu. Sembari itu, warga Desa Jambewangi juga memanfaatkan lahan sekitarnya untuk tanaman musiman dengan sistem surjan. Sebagian hasil tanam, biasanya oleh warga dibelikan bibit pohon untuk ditanam lagi di area hutan lindung tersebut,” jelasnya.

Sumber : timesindonesia.com

Tanggal : 22 Oktober 2020