"Loading..."

Masyarakat Dusun Dawe Alih Profesi Jadi Pekerja Persemaian Perhutani di Mantingan

MANTINGAN, PERHUTANI (03/10/2020) | Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan bersama Kepala Dusun Dawe Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora berupaya meningkatkan kesejahteraan Masyarakat Desa Hutan (MDH) dengan mengarahkan mereka agar beralih profesi menjadi pekerja persemaian (03/11).

Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan keahlian dalam kegiatan persemaian khususnya tanaman keras atau tanaman kehutanan sekaligus dalam rangka mengurangi potensi pencurian kayu di hutan wilayah KPH Mantingan.

Administratur KPH Mantingan melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebon, Hari Juli Prihatianto menjelaskan bahwa dahulu tidak ada warga yang mau menjadi tenaga persemaian. Mereka lebih memilih menjadi pencari rencek dan kayu–kayu curian di hutan. Seiring dengan masa pandemi, banyak dari mereka yang mencoba alih pekerjaan. Untuk di lokasi persemaian sendiri, Perhutani menerima tambahan tenaga sebanyak  15 orang dengan upah 75 ribu rupiah per harinya dan diterima setiap 15 hari sekali.

KPH Mantingan mempunyai 6 lahan persemaian yang tersebar di 6 kantor BKPH. Untuk wilayah BKPH Kebon, luas persemaian mencapai sekitar 1 hektar dan didominasi oleh tanaman keras dan tanaman kehutanan yang meliputi Jati Plus Perhutani (JPP) stek pucuk 221.248 batang, Mahoni 98.492 plances, Sengon 20.144 plances, Sonokeling 3.477 places dan ditambah tanaman jenis lainnya, total keseluruhan mencapai 1.540.853 plances.

Kepala Dusun Dawe, Suyono sangat berterima kasih kepada Perhutani karena warganya diperbolehkan bekerja di Persemaian.

“Dahulu banyak warga kami yang menjadi blandong (pengambil kayu di hutan). Sekarang mereka lebih senang menjadi tenaga persemaian. Hutan Mantingan dikelilingi desa, sehingga banyak warga yang kehidupannya tergantung pada hutan. Kami bersyukur sekali banyak warga kami yang mulai bergeser menjadi tenaga kerja di Perhutani,” ujarnya.

Salah satu warga Desa Keser, Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora, Suparmi mengatakan sangat senang bekerja di persemaian daripada harus menjadi blandong perempuan.

“Berat bawanya kayu mas. Kalau di persemaian kami hanya membuat bedengan (tempat semai benih), membuat media tanam dari kompos, memindahkan bibit ke bedeng sapih, mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar persemaian agar tanaman yang sudah tumbuh bisa berkembang baik. Beberapa waktu yang lalu kami juga diberikan bantuan dari Perhutani berupa beras 5 kg, minyak goreng, mie instan, susu, vitamin dan masker,” ungkap dia sambil melanjutkan pekerjaannya mencabuti rumput di bedengan persemaian. (Kom-PHT/Mtg/Sgt)

Editor : Ywn
Copyright©2020