"Loading..."

Menggiurkan, Satu Hektare Porang di Madiun Bisa Hasilkan Ratusan Juta

IDNTIMES.COM (20/02/2021) | Tanaman porang telah banyak dibudidayakan oleh petani di beberapa daerah seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Salah satu sebabnya komoditas ini mempunyai nilai ekonomis tinggi. Untuk hasil panen pada lahan seluas satu hektare di wilayah Kabupaten Madiun, misalnya, dapat mencapai Rp200 juta.

“Waktu panen umbi porang sekali dalam setahun,” kata Akhmad Khoiri, salah seorang pembudidaya porang di lahan hutan milik Perum Perhutani KPH Saradan, Jumat (19/2/2021).

1. Melewati siklus vegetatif dan generatif
Masa panen porang berlangsung antara bulan Mei – Oktober. Ini setelah melewati dua siklus hidup, yakni vegetatif yang diawali dengan pertumbuhan tunas, akar, dan tunas di atas umbi. Kemudian, siklus generatif dengan ditandai keluarnya bunga yang kemudian disebut dengan katak. Di sela kedua siklus itu berlangsung masa dorman atau istirahat.

“Idealnya untuk dapat dipanen secara maksimal usia tanaman tiga tahun,” ujar Khoiri kepada IDN Times.

2. Perlu dirawat secara intensif
Setelah ditanam hingga dapat dipanen, ia melanjutkan, proses perawatan tanaman yang biasa disebut iles-iles ini perlu mendapat perhatian. Tahapannya seperti, proses penyiangan (mencabut gulma dalam hal ini rumput di sela-sela tanaman), pemupukan, dan pemenuhan air.

“Hal ini perlu diperhatikan karena memang untuk budidaya. Berbeda ketika porang belum booming seperti sekarang yang masih sebagai tanaman liar,” kata pria yang juga sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Sumber Tani Desa Kaligunting, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun ini.

3. Pertama kali dikembangkan di Desa Klangon, Saradan

Umbi porang yang pertama kali dipanen dirajang kemudian dijemur. Umbi porang yang sudah kering dijual kepada seorang pengusaha dari Surabaya.

Kemudian, proses itu berlangsung setiap tahun. Hingga akhirnya warga lain tertarik untuk ikut membudidayakan porang lantaran nilai jualnya fantastis. Untuk satu kilogram umbi porang yang sudah dikeringkan, harganya mencapai Rp14 ribu.

Seiring berjalannya waktu, pangsa pasar porang kian meluas di berbagai negara, seperti Jepang hingga Australia. Di sana, tepung porang akan diproses menjadi berbagai bahan makanan seperti beras Shirataki hingga kosmetik.

“Saya juga tertarik karena hasil jualnya bagus. Maka, sejak 2012 saya mulai menanam porang,” ungkap Khoiri.

Sumber : idntimes.com

Tanggal : 20 Februari 2021