"Loading..."

Penggunaan Kayu Bakar Terus Meningkat

Bisnis kayu bakar untuk keperluan industri makanan olahan skala kecil-menengah mengalami peningkatan sejak beberapa hari terakhir. Walau pemerintah menunda menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), para perajin terus menyimpan cadangan kayu bakar untuk efisiensi biaya produksi.

Pemasok kayu bakar asal Ujungberung, Makmur, di Bandung, Minggu (1/4), mengatakan, kayu-kayu bakar yang diminati perajin usaha makanan umumnya berasal dari dahan dan batang kayu albasia, kayu karet, kayu jati, kayu pinus, atau kayu-kayu lainnya yang cepat terbakar. Pesanan kayu bakar yang naik muncul dari Kabupaten Bandung, Garut, dan Sumedang karena banyak perajin olahan dodol, susu, opak, kerupuk kulit, tahu, dll.

”Dari berbagai cara menekan biaya produksi, mereka mengurangi penggunaan gas, tetapi memperbanyak bahan kayu bakar. Uang yang semula digunakan untuk membeli gas, kemudian dialihkan memperkuat modal,” katanya.

Keterangan sama dilontarkan rekannya, Asep Saepuloh yang mengatakan, bisnis kayu bakar mengalami peningkatan tajam setiap menjelang dan pasca kenaikan harga BBM tiga tahun terakhir. Pasca minyak tanah bersubsidi ditiadakan pemerintah, setiap kali ada penebangan pohon, dahan, dan ranting pohon-pohon kayu cepat habis dibawa masyarakat.

Gambaran ini dibenarkan beberapa personel keamanan kehutanan di Perum Perhutani Unit III. Banyaknya pohon tumbang akibat angin kencang, misalnya di Kawasan Hutan Gunung Manglayang, cepat diambil didahului diambil masyarakat.

Seorang petugas keamanan Perhutani, Budi Triana, kayu-kayu yang berasal dari pohon tumbang di hutan, rata-rata dihargai Rp 400.000/pikap oleh pembeli. Para pembelinya kebanyakan para perajin makanan olahan, terutama tahu dan tempe, di timur Bandung yang berupaya menyimpan banyak cadangan kayu bakar sebelum harganya terpengaruh kenaikan harga BBM.

Situasi sesaat
“Ini memang membuat banyak petugas keamanan hutan pusing karena personel dengan jumlah terbatas beradu cepat mengamankan pohon-pohon yang tumbang. Padahal, ada peraturan pemerintah, pohon-pohon tumbang dari hutan lindung tidak boleh diambil, tetapi tampaknya masyarakat kurang memedulikan,” ujarnya mengeluhkan.

Kasi Tanaman Biro Rehabilitasi Usaha Pengembangan Hutan Rakyat (RUPHR) Perum Perhutani Unit III, Asep Surahman mengatakan, sejak beberapa hari terakhir, minat sejumlah masyarakat menjual pohon-pohon kayu-kayuan dari hutan rakyat pun naik. Banyak indikasi, masyarakat menjual pohon-pohon kayunya untuk mengantisipasi efek kenaikan harga kebutuhan pokok, walau harga BBM ditunda kenaikannya.

“Ini memang situasi sering terjadi secara sesaat dan biasanya kembali normal. Namun, dampaknya akan merugikan masyarakat pemelihara pohon kayu karena harganya ditawar murah oleh bandar,” katanya. (A-81) ***

PIKIRAN RAKYAT :: 2 April 2012, Hal. 8