"Loading..."

Perhutani Harus Bisa Jadi Pionir Hilirisasi

JAKARTA – Manajemen Perusahaan Umum Perhutani harus meningkatkan tata kelola untuk menjadi pionir industri kehutanan terpadu berdaya saing tinggi di pasar global. Perhutani yang mengelola 2,4 juta hektar kawasan hutan di Pulau Jawa ditargetkan bisa tumbuh menjadi sebesar induk badan usaha Pemerintah Singapura, Temasek.
Ketua Dewan Pengawas Perhutani Hadi Daryanto mengungkapkan hal itu, Selasa (21/10), di Jakarta. Sebelumnya, Hadi menyaksikan serah terima jabatan Direktur Utama Perum Perhutani dari Bambang Sukmananto kepada Mustoha Iskandar.
“Target Dirut Perhutani yang baru adalah menyelesaikan rencana kerja dan pembangunan pabrik sagu di Papua serta meningkatkan tata kelola perusahaan. Perhutani harus dapat menjadi pionir industri terpadu sektor kehutanan, pangan, dan industri pengolahan berbasis rakyat,” kata Hadi.
Perum Perhutani merupakan badan usaha milik negara (BUMN) sektor kehutanan terbesar. Perhutani mengelola kawasan hutan di Pulau Jawa yang didominasi kayu jati dan pinus.
Sejak 17 September 2014, Kementerian BUMN melebur BUMN sektor kehutanan dengan Perhutani sebagai induk perusahaan yang memayungi Inhutani I, Inhutani II, Inhutani III, Inhutani IV, dan Inhutani V. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2014 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Perusahaan Umum Kehutanan Negara menetapkan Perhutani sebagai perusahaan induk dengan modal awal Rp 1,1 triliun.
Terobosan Pemasaran
Perhutani memproduksi kayu olahan bernilai tinggi seperti jati dan sedikitnya 26 jenis komoditas nonkayu seperti gondorukem (getah pinus merkusi) dan lak. Hadi meminta manajemen Perhutani meneruskan pembukaan kantor pemasaran kayu olahan bermerek sendiri di Shanghai, Tiongkok.
Hadi mengatakan, pembukaan kantor pemasaran produk bermerek Perhutani di Tiongkok merupakan salah satu terobosan positif untuk menggenjot penghasilan. Menurut Hadi, manajemen harus cermat memilih mitra bisnis untuk sukses berdagang di Tiongkok.
“Kayu berkualitas bagus jangan lagi diberikan kepada pihak luar. Kayu tersebut harus diolah sendiri untuk menciptakan nilai tambah dan berdaya saing tinggi di pasar ekspor,” kata Hadi.
Dalam jumpa pers seusai serah terima jabatan, Mustoha mengatakan, pihaknya mengajak seluruh karyawan Perhutani membangun budaya perusahaan korporasi. Menurut Mustoha, era globalisasi dan kompetisi tinggi menuntut Perhutani bergerak lincah untuk menjadi pemimpin di sektor industri kehutanan.
Fokus Restrukturisasi
Manajemen Perhutani juga akan fokus merestrukturisasi Inhutani I-V dan mengoptimalkan aset tidur Perhutani seluas 2 juta meter persegi di Pulau Jawa. Perhutani, ujar Mustoha, akan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki Inhutani I-V agar berproduksi optimal dan menghasilkan dividen.
Selama ini Inhutani I-V beroperasi di Kalimantan dan Sumatera. Konflik sosial dan okupansi lahan selama 20 tahun terakhir turut memengaruhi kinerja Inhutani I-V.
Mustoha menambahkan, restrukturisasi merupakan pilihan logis untuk menyelamatkan Inhutani I-V dan menjaga kesinambungan Perhutani. Manajemen Perhutani berharap, ada peraturan pemerintah yang menjadi landasan hukum bagi alas hak lahan Inhutani I-V untuk menjamin kesinambungan bisnis dan mempermudah operasional.
Perhutani, ujar Mustoha, menargetkan pendapatan tahun 2014 senilai Rp 4,6 triliun dengan laba Rp 287 miliar. Diversifikasi produk nonkayu sektor hilir akan menjadi perhatian manajemen untuk mengimbangi penghasilan sektor hulu.
“Sektor hilir harus menjadi penghela pendapatan perusahaan. Perhutani harus menjadi pemimpin sektor industri kayu dengan masuk ke sektor hilir yang sangat kompetitif,” ujar Mustoha.
SumberĀ  : Kompas
Tanggal : 22 Oktober 2014