blora-kayu-mutu-359x241SUARAMERDEKA.COM (19/1/2017) | Mutu kayu yang dihasilkan dari proses tebang habis kayu jati di kawasan hutan Perhutani, menjadi salah satu faktor penentu laku tidaknya kayu tersebut di pasaran. Menyadari hal itu, Perhutani secara khusus menugaskan pegawainya yang mempunyai keahlian untuk memeriksa mutu kayu setelah kayu tersebut ditebang. Bahkan petugas itupun secara berkala diuji kemampuannya oleh biro produksi Perhutani.

Wakil Kepala Seksi Pengujian Hasil Hutan kayu dan Nonkayu pada Perhutani Divisi Regional I Jawa Tengah Heru Waluyo mengemukakan, pemeriksaan mutu kayu tebangan merupakan salah satu langkah untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi kayu. Menurutnya, tak hanya pemeriksaan pada fisik kayu tebangan, petugas yang melakukan pemeriksaan mutu, baik penguji kayu maupun mandor tebang, juga secara berkala diuji kemampuannya.

‘’Sehingga dengan penguasaan dan pengetahuan tentang mutu kayu yang telah dimiliki akan bisa mencapai mutu serta ukuran kayu sesuai dengan permintaan pasar,’’ ujarnya saat memantau pemeriksaan mutu dan ukuran kayu tebang habis di petak 15a Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Nglencong, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Trembes, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung.

Menurutnya, dalam penentuan mutu kayu, Perhutani mempunyai petugas penguji kayu bersertifikat tenaga ahli. Para petugas penguji kayu yang dimiliki Perhutani semuanya sudah bersertifikat nasional. Mereka pun berhak menentukan klas mutu sesuai dengan standart yang ditetapkan oleh pemerintah.

Saat melakukan tugasnya di lapangan, para penguji kayu tersebut dibekali dengan surat ijin pengujian kayu serta palu thok untuk memberikan tera pada ujung batang kayu jati yang telah ditebang.

‘’Dalam melaksanakan pengujian kayu jati, petugas kami yang di lapangan secara berkala juga menjalani uji kompetensi ulang. Hal itu untuk mengukur kemampuan personal terkait dengan pengujian mutu kayu,’’ tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk menyamakan persepsi tentang mutu kayu, pihaknya melakukan pembinaan bersama antara penguji kayu dan mandor tebang yang ada di lapangan. Dengan pembinaan tersebut, kata Heru Waluyo, tujuan untuk mencapai output dari proses tebangan bisa maksimal sesuai dengan rencana produksi yang telah dicanangkan oleh perusahaan. ‘’Baik dari sisi mutu maupun kuantitas produksi akan bisa tercapai,” katanya. (Abdul Muiz/CN19/SMNetwork)

Sumber: suaramerdeka.com

Tanggal: 19 Januari 2017