"Loading..."

PT Inhutani I dan Kementerian LHK Rencanakan Kebangkitan Industri Rotan di Indonesia

JAKARTA, INHUTANI I (27/10/2020) | PT Inhutani I dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaksanakan pembahasan Fasilitasi Survey Potensi Rotan di Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan tindak lanjut atas rencana Kementerian LHK dalam mengelola potensi Rotan yang ada di Sulawesi Selatan dengan penunjukan PT Inhutani I sebagai penyedia bahan baku rotan untuk menyuplai industri Furniture di Jawa oleh Pemerintah pada bulan Februari lalu, Kamis (22/10).

Sebelumnya, Direktorat Unit Jasa Lingkungan Hutan Bukan Kayu Hutan Produksi (DUJLHHBKHP) Kementerian LHK mengusulkan rencana pemanfaatan rotan kepada 8 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Provinsi Sulawesi Selatan melalui skema kerja sama dengan PT Inhutani I sebagaimana target jangka menengah yaitu terealisasinya sentra industri rotan di Kota Palopo. Dalam pertemuan melalui Video Conference (13/7) PT Inhutani I mengusulkan untuk membagi tugas dimana PT Inhutani I akan melaksanakan survey pasar sementara KPH akan melaksanakan survey potensi rotan.

Direktur PT Inhutani I, Sri Widodo menyambut positif usulan dan arahan dari Kementerian LHK dan akan semaksimal mungkin berupaya untuk menjadi offtaker rotan dari Sulawesi dengan tahap awal menjadi penyuplai bahan baku rotan bagi pengrajin di Pulau Jawa dan selanjutnya secara bertahap direncanakan akan dibangun sentra industri pengolahan rotan di wilayah Sulawesi.

“PT Inhutani I juga akan menyiapkan Gudang di Unit Manajemen Industri Gresik sebagai lokasi penyimpanan/gudang rotan hasil trading sehingga memudahkan penyediaan kebutuhan rotan bagi pengrajin kerajinan rotan di Pulau Jawa,” jelasnya

Seperti yang diketahui, saat ini produksi rotan di Indonesia terus mengalami penurunan, para petani enggan mengambil rotan dikarenakan harga yang rendah sehingga menyebabkan para pengrajin rotan tidak bisa mendapatkan bahan baku. Berdasarkan data BPS selang waktu 2016-2018 produksi rotan di Indonesia mengalami penurunan. Pada tahun 2016 produksi rotan sebesar 15,647,40 ton, pada tahun 2017 sebesar 8.746,45 ton, dan pada tahun 2018 hanya sebesar 3.942,88 ton.

Pemanfaatan rotan bersifat padat karya yang dapat membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah yang besar. Langkah strategis ini akan menimbulkan multiple effect terhadap perekonomian masyarakat pengumpul, pengrajin, transportasi, dan lain-lain. Hal ini juga akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekspor rotan sehingga dapat meningkatkan devisa negara. (Kom-IHT1/ABS)

Editor : Ywn
Copyright©2020