"Loading..."

Target produksi kedelai diturunkan

Kementerian Pertanian merevisi target produksi kedelai tahun ini menjadi 1,3 juta ton, turun dibandingkan dengan target sebelumnya 1,9 juta ton karena penambahan lahan pada tahun ini diperkirakan hanya 80.000 ha.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan target penambahan area kedelai 500.000 hektare pada tahun lalu tidak terealisasi, sehingga produksi turun. Hal itu membuat Kementan menurunkan target produksi 2012 dari 1,9 juta ton menjadi 1,3 juta ton.

“Kita lakukan road map ulang, sehingga target produksi (kedelai pada 2012) 1,3 juta ton, pada 2013 (produksi kedelai) bisa ada lompatan tajam,” ujarnya dalam acara Teknologi Budidaya Kedelai di Kawasan Hutan Jati, kemarin.

Langkah terobosan untuk menggenjot produksi kedelai dilakukan Kementan dengan menggandeng Perum Perhutani, sehingga petani dapat menanam kedelai di kawasan hutan jati dengan cara tumpang sari.

Luas hutan yang dikelola Perum Perhutani di Jawa mencapai 2,4 juta ha terdiri dari 1,6 juta ha hutan produksi. Dia mengharapkan 25% hutan produksi itu atau sekitar 400.000 ha dapat dimanfaatkan petani untuk menanam tanaman pangan.

Jika 200.000 ha itu dimanfaatkan untuk tanaman kedelai dengan panen dua kali, sehingga luas panen akan menjadi 400.000 ha dan produktivitas 2 ton per ha, maka akan menghasilkan tambahan kedelai pada tahun ini 800.000 ton.

Dia memprediksi penambahan luas lahan kedelai pada tahun ini hanya 80.000 ha. Dengan penambahan area kedelai 2012 seluas 80.000 ha dengan asumsi panen dua kali dan produktivitas 2 ton per ha, maka akan menghasilkan 320.000 ton.

“Saya kira tambahan produksi kedelai tahun ini 320.000 ton memungkinkan. Ini diharapkan ada tambahan (lahan) lagi yang dapat ditanami kedelai,” ujarnya. Menurutnya, tambahan lahan kedelai tahun ini 200.000 ha sulit untuk tercapai. Selain persoalan benih yang belum dapat mencukupi, masih terkendala oleh ketersediaan lahan.

Dia mengakui harga kedelai lokal jauh lebih mahal dibandingkan dengan kedelai impor. Hal itu membuat kedelai lokal kalah bersaing. Oleh karena itu, katanya, perlu ada bantuan dari pemerintah agar biaya produksi turun, sehingga secara bertahap harga bisa bersaing dengan kedelai impor.

“Selama ini problem (kedelai impor) harga murah, (kedelai lokal) kalah jauh dari harga impor. Petani baru menikmati harga Rp 7.000 per kg, harga impor cuma Rp 4.500 per kg,” ujarnya. Dia mengakui telah mengimbau importir agar tidak terlalu senang dengan impor. Importir, katanya, ikut membantu petani, sehingga terjadi kondisi yang saling menguntungkan.

Mentan mengaharapkan pemerintah daerah untuk juga selalu memberikan semangat kepada petani dan mencarikan solusi saat harga jatuh. Pemda, lanjutnya, harus turun tangan menjaga harga tidak jatuh melalui mekanisme resi gudang “Kita memberikan bantuan [petani kedelai] di sisi hulu, benih gratis, pupuk, sehingga harga bisa turun.

Secara bertahap pasti akan ketemu pada titik harga yang sama antara kedelai impor dan lokal.” Menurutnya, bea masuk impor kedelai mulai awal tahun ini akan dinaikkan dari 0% menjadi 5%, sehingga diharapkan selisih harga kedelai impor dengan kedelai lokal semakin kecil. Selain itu, perlu kebijakan insentif, subsidi, harga dan tata niaga kedelai. “Kita sedih, kenapa kedelai ini diperhatikan betul, kedelai impor di atas 1 juta ton per tahun.” Sepudin Zuhri

BISNIS INDONESIA :: 10 Januari 2012, hal. i2

Share: